2# Be YourSelf Guys

Pagi Kawan, semoga tetep semangat untuk terus berkarya ya. Kali ini saya akan membagai Kulwit pak @Indrakubik tentang  #MauKamuApaSih. Kalau saya memaknainya bagaimana agar kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa harus terombang ambing dengan pendapat orang lain tentang kita. Pernah tidak kalian terasa seperti bunglon yang selalu merubah diri kalian sesuai dengan tuntutan orang lain terhadapat kita. atau pernah tidak mengalami apapun yang kita lakukan selalu salah?.Dulu  Saya sendiri sangat sering mengalami hal itu. Tapi semakin kita mengikuti kemauan orang lain terhadap kita, maka akan semakin jauh diri kita dengan jati diri kita yang sebenarnya. Mulai sekarang ubah diri kita kawan, jadilah diri kita sendiri tanpa mengabaikan orang lain (cuek). berikut Kulwit dari pak Indrawan Nugroho yang saya kutip dari twitternya. Semoga bermanfaat.

1/41 Pernah merasa bahwa apapun yang kamu lakukan semuanya selalu salah di matanya?

2/41 Pernah merasa bingung harus bgmn karena semua orang menuntut kita jadi seperti yang mereka mau?

3/41 Yuk kita mulai Kultwit #MauKamuApaSih? Siap semuanya? Hayo ngacung yang sudah siap nyimak.

4/41 Kita mulai dengan cerita tentang seorang anak, ayahnya, dan seekor keledai. Begini ceritanya.

5/41 Suatu ketika si anak dan ayahnya melakukan sebuah perjalanan jauh. mereka ditemani oleh seekor keledai tua.

6/41 Melihat ayahnya mulai lelah, si anak meminta ayahnya utk menunggangi keledai tuanya. Mereka memasuki sebuah desa.

7/41 Orang2 desa mencemooh mrk, “ayah yang tidak tahu diri, dia enak2 naik keledai sementara anaknya disuruh jalan kaki.

8/41 Sang ayah sakit hatinya. Di desa berikutnya, dia minta si anak yg menunggangi keledai, sementara dia menuntun.

9a/41 Ternyata penduduk di desa itu juga menggunjing mereka, katanya: “Dasar anak gak tahu diri….

9b/41 …….teganya anak itu menyuruh ayahnya untuk jalan kaki sementara dia enak2 menunggang keledai.”

10/41 Sang anak sedih mendengarnya. Tidak ada niatan untuk membuat susah ayahnya. Kenapa mereka berfikir seperti itu?

11/41 Akhirnya ketika memasuki desa berikutnya, mereka berdua memutuskan untuk menunggangi keledainya bersama2.

12/41 Orang2 desa gelengkan kepala, mrk brkt: “dasar gak py perasaan, masa tega keledai tua seperti itu ditunggangi 2 org?”

13/41 Keduanya bingung harus bagaimana. Apa ya yang harus mereka lakukan? Ada yang bisa tebak?

14/41 Memasuki desa yang keempat, akhirnya si anak dan sang ayah memutuskan untuk tidak menunggangi keledainya.

15/41 Apa yang terjadi? Orang2 di desa itu berkata: “Si anak dan si bapak itu bodoh sekali, punya keledai kok tidak ditunggangi.”

16/41 Apa kira2 yang terjadi di desa kelima? Hahaha, untuk yang ini saya serahkan pada daya imajinasimu saja.

17/41 Rekan2, itu tadi hikayat yang mewakili realita kehidupan. Kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang.

18/41 Apapun yang kita lakukan, bagaimana pun niat kita, akan selalu ada orang yang melihatnya dengan cara yang berbeda.

19/41 Seberapapun kita mencoba melakukan yang terbaik, selalu ada orang yang melihat salahnya. Melihat kurangnya.

20/41 Itu terjadi karena mereka tidak melihat keseluruhan ceritanya. Mereka hanya tahu potongan, terus menyimpulkan.

21/41 That’s human nature. A blunt reality. Whether we like it or not. Bahkan kadang kita sendiri juga begitu. Betul gak?

22/41 Akibatnya, hal itu membuat kita jadi enggan berbuat. Takut memutuskan. Akhirnya tidak melakukan apa-apa.

23/41 Sayangnya kita tidak bisa menghindar. Kita jalani banyak peran. Pundak ini menampung banyak harapan.

24/41 Jadi apa yang harus kita lakukan? Jawabnya: Harus punya prinsip, kemampuan memilah dan memilih, serta keberanian.

25/41 Seorang pemimpin selalu dihadapkan pada situasi ini. Memutuskan ditengah pertentangan dan keterbatasan informasi.

26/41 Maka pemimpin harus punya prinsip, sebuah panduan internal yg jadi pegangan & rujukannya dlm buat keputusan.

27/41 Pegang prinsip, dengarkan masukan, timbang semua alternatif, kemudian putuskan apa yang kamu yakini benar.

28/41 Tidak semua orang akan setuju, karena semua orang punya kepentingan. Itu tidak apa2. Itu wajar.

29/41 Yang tidak boleh adalah kamu membiarkan dirimu diombang-ambing oleh orang dan keadaan, dan tidak berani memutuskan.

30/41 Bagaimana jika salah? Itu masih lebih baik. Terlambat atau tidak memutuskan, tingkat resiko dan ongkosnya lebih besar.

31/41 Ketika sadar salah ambil keputusan, kita bisa belajar & masih punya waktu untuk memperbaikinya.

32/41 Kita semua adalah pemimpin. Di kantor. Lingkungan. Rumah. Juga utk diri sendiri. Maka hrs berani buat keputusan.

33/41 Jadi kalau dia selalu nuntut ini itu yg bikin kamu bingung. Putuskan sikap. Berpeganglah dan buat dia tahu itu.

34/41 Kalau saat ini kamu bingung gmn memuaskan teman2 yang maunya beda2, berhentilah mencoba memuaskan semuanya.

35/41 Pilah dan pilih. Pertimbangkan akibatnya bagimu dan orang lain. Kemudian putuskan apa yang kau yakini terbaik.

36/41 Menentukan sikap itu mudah jika kita punya prinsip dan tahu prioritas. Ditengah kebimbangan itulah peganganmu.

37/41 Contoh: bagi seorang istri yang berprinsip bahwa suaminya adalah imam, dan prioritasnya pada keluarga, maka mudah..

38/41 ….Mudah baginya memutuskan dan bersikap. Pandangan suaminya yang paling penting, bukan apa orang2 lain disekitarnya?

39/41 Dia tidak mudah goyah, tidak bisa diombang-ambing. Hidupnya simple. Energinya besar. Langkahnya kuat.

40/41 Mulai sekarang yuk punya keberanian memutuskan dan menentukan sikap. Pegang prinsip. Jadilah dirimu sendiri.

41/41 Semoga Kultwit #MauKamuApaSih? Ini bermanfaat untuk semua.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s